Solusi Pengelolaan Aset
Berbasis Teknologi Blockchain

Blockchain Openchain adalah suatu platform untuk melacak kepemilikan dari aset nyata dan bertindak sebagai suatu register kepemilikan generik. Dengan menggunakan sistim framework blockchain ini untuk berjalan, kita memiliki sarana kita sendiri untuk pengiriman aset digital yang didasarkan pada aset riil seperti koin perak.

Bukan hanya aset tunai, tetapi juga aset non-tunai. Contoh, Andi memiliki suatu konten buku. Tidak seperti buku digital yang ditawarkan pada pasar digital. Itu adalah suatu buku yang ditulis oleh Andi dan dapat dipastikan bahwa konten buku tersebut belum dipublikasikan baik itu offline atau online atau hak-cipta konten ada pada penulisnya untuk dicetak atau diterbitkan ulang.

Konten tersebut tidak dimasukkan ke dalam sistim blockchain tetapi hanya nama dan kode yang merujuk kepada lebih banyak informasi pada halaman web lain sementara konten aslinya aman di tempat lain disimpan oleh pemiliknya. Ketika pemiliknya ingin memasukkannya ke dalam platform, ada dua opsi.

Pertama, meregisternya. Ada proses validasi untuk memastikan bahwa konten tersebut memang benar ada, sah dan tidak melanggar hukum. Ketika proses validasi selesai dilakukan, ia diregistrasikan ke dalam platform.

Kedua, ketika seseorang ingin untuk meregister suatu aset seperti sertifikat-hak-milik, ada opsi untuk menawarkannya kepada semua anggota yang ingin membelinya (dengan uang-fiat, emas, perak, atau sarana pembayaran apa pun atau komoditas), sehingga diharapkan ada beberapa pembeli yang menawarkan bermacam pembayaran. Penjual kemudian memilih seorang pembeli berdasarkan pada pembayaran yang dia suka dibayar dengan itu. Jika penjual suka untuk dibayar dengan misalnya komoditas biji-bijian, maka dia memilihnya. Pembeli yang terpilih kemudian melaksanakan suatu proses validasi untuk memastikan bahwa semua informasi dari penjual adalah benar.

Gambaran cara kerja sistem blockchain adalah sebagai berikut. Andi mengirim 1 dirham perak kepada Bobi dan Bobi mengirim 1 dirham itu kepada Carli. Catatan hash mutasi antara Andi dan Bobi diciptakan sebagai A1. Baik itu Andi dan Bobi memiliki hash mutasi A1. Kemudian transaksi antara Bobi dan Carli menciptakan mutasi baru B1. Baik itu Bobi dan Carli memiliki hash mutasi B1. Aliran transaksinya dapat dilacak dan setiap orang dapat menerbitkan suatu aset digital berdasarkan suatu aset fisik yang riil dan mengirimkannya kepada anggota lain yang percaya untuk menerimanya sebagai pembayaran. Dengan menerbitkan suatu aset digital, penerbit aset menyatakan bahwa dia benar-benar memiliki aset tersebut di tangannya, dan setuju untuk menyerahkannya kepada siapa pun yang memiliki aset digital yang dia terbitkan. Ketika seseorang ingin melikuidasi aset tersebut, penerbitnya dilacak untuk menyerahkan aset fisik riilnya.

Platform ini insya Allah dapat mengintegrasikan Muamalat ke dalam dunia digital.

Pendefinisian XAU di dalam Platform

XAU adalah satuan troy ounce untuk emas murni. Setiap yang berkadar emas murni 24k, apa pun bentuknya, adalah masuk pada kategori XAU. Begitu pula dengan perak, dalam bentuk apa saja, yang setiap sekian satuannya, disamakan dengan sekian troy ounce, juga masuk kategori XAU di dalam platform

dinar blockchain

Bukan XAU

Emas yang telah dicetak, dengan kadar kurang dari 24k, adalah uang dan tidak termasuk dalam kategori XAU. Dirham memiliki ticker ISD (Islamic Silver Dirham). Dinar dengan ticker IGD (Islamic Gold Dinar) dan Fulus dengan ticker ICF (Islamic Copper Fils)

desain bangunan

Transaksi

Dari sertifikat tanah sampai desain bangunan, semua dapat ditransaksikan.

Taruhlah misalkan seorang arsitek yang sedang tidak memiliki job atau order. Di sisi lain dia perlu untuk memenuhi keperluannya dan salah satu yang dapat dia lakukan adalah membuat desain bangunan. Desain bangunan dapat diregisterkan ke dalam platform untuk ditukar dengan apa saja yang ada di dalam platform, yang bersedia dibayar dengan jasa desain tersebut, walaupun saat itu misalkan belum memerlukannya. Ketika suatu saat hendak membuat bangunan misalkan, maka arsitek tersebut berkawajiban menunaikan hutangnya itu dengan memberikan jasa desain yang sebelumnya sudah ditukarkan dengan sesuatu.

Seseorang yang tidak memiliki benda fisik apa pun, tidak selayaknya mengatakan bahwa ia tidak punya apa-apa. Itu dapat masuk kepada kategori durhaka kepada Allah subhanahuwata’ala. Ada begitu banyak yang telah Allah anugerahkan termasuk kesehatan, yang dengan itu seseorang dapat bekerja. Atau suatu arsip desain yang dirancangnya. Atau suatu aset fisik.

Muamalat mengarah kepada kesadaran bahwa segala sesuatu adalah aset dan dapat ditransaksikan.

oil and gold and commodities and silver

Transaksi sehari-hari meliputi banyak segi dan Tidak Bisa Dibatasi

Transaksi sehari-hari meliputi banyak segi. Pada dasarnya, segala sesuatu adalah aset. Mengatakan bahwa aset hanyalah benda-benda atau komoditas tertentu saja, atau lebih parah lagi hanya karensi di suatu tempat tertentu saja, adalah mencoba membatasi kebebasan bertransaksi. Ketika sesuatu ditawarkan, maka apakah orang memerlukan itu atau tidak.

 

Ada suatu perbincangan mengenai batu akik yang sedang booming di tahun 2014. Secara alami batu alam dengan keindahan, memiliki harga yang lumayan. Dengan adanya booming batu, harganya menjadi lebih karena dicari orang. Saat itu kami batu ditemukan di suatu gunung di dekat Tasikmalaya. Jumlahnya banyak. Tetapi, warga di sekitar situ, apabila ditanya, menjawab ‘tidak punya uang.’

Segitu uang ada di hadapan mata, masak menyebut tidak punya uang?

Hal yang senada juga diberitahukan oleh Syaikh Umar Ibrahim Vadillo. Bahwa, segala sesuatu yang dimiliki oleh seseorang, termasuk yang tidak tampak oleh mata, itu adalah untuk diberi nilai.

Konfirmasi berikutnya dari kitab Al-Muwatta Imam Malik, bab Transaksi Bisnis kitab ke-31. Diterangkan di bagian paling awal mengenai segala macam hal yang sifatnya dapat dinilai secara eksak. Juga:

Mengenai Muamalat, di tahun 2014, Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi, meninggalkan dua perkara, yang apabila kedua perkara itu dipegang dengan sungguh-sungguh, maka Muamalat akan tetap hidup. Pertama: Trade and Exchange, hand to hand. Kedua: Tranfer accross distance, without recourse to capitalism institution. Shaykh Umar Ibrahim Vadillo, mengatakan pada Moussem tahun 2018, bahwa para Sufi, di jaman penuh dengan riba seperti sekarang ini, tidak memiliki tempat kecuali di dalam Muamalat.

Keterbatasan pandangan hidup, yang menghalangi orang untuk mensyukuri nikmat Allah subhanahuwata’ala adalah kekufuran. Pandangan hidup yang terbatas, tidak memungkinkan untuk menjelajahi kemungkinan yang tidak terbatas. Kaum Muslimin memiliki kebebasan yang tidak terbatas, manakala mentaati perintah Allah dalam bertransaksi yang mana sudah ada aturannya. Inilah perbedaan kaum Muslimin dengan yahudi dan nasrani.

Sikap seorang Muslim dalam Menyikapi Kehadiran Teknologi Digital berdasarkan Ajaran Shaykh Abdalqadir as-Sufi

Ada dua poin penting mengenai kehadiran teknologi digital:

– pertama, bahwa teknologi tersebut sejak awalnya digunakan untuk melancarkan kegiatan administrasi perbankan dan pemerintahan dalam hal ini negara
– kedua, bahwa teknologi tersebut dapat musnah sewaktu-waktu dengan dihancurkannya infrastruktur teknologi secara fisik

Digunakannya suatu teknologi, oleh suatu pihak yang bersalah, tidak menjadikan teknologi itu sebagai salah. Kemudian, berdasarkan ajaran Shaykh Abdalqadir as-Sufi, bahwa seandainya pun, esok hari Kiamat, maka kita tetap melanjutkan mencangkul. Dan yang sedang kita tanam adalah Islam.

Ada bagian dari Islam, yang tidak dapat dihilangkan dari kehidupan sehari-hari yakni Muamalat. Ketika semakin banyak orang bertransaksi tanpa harus bertemu, kehadiran sarana pembayaran, yang mendukukung kegiatan Muamalat dalam transaksi digital, adalah diperlukan.

Sesuai dengan ajaran Shaykh as-Sufi, bahwa seandainya pun esok hari infrastruktur digital hancur, misal karena adanya debu magnetik, atau serangan cyber dan senjata elektromagenetik, atau bencana alam, yang menyebabkan teknologi digital musnah secara keseluruhan, maka seorang Muslim tetap harus mendirikannya, dan menerapkan kaidah-kaidah dalam Muamalahnya.

Menghancurkan teknologi digital, adalah semisal seperti menghancurkan gedung bank. Muslim bukan hendak mengebom bank. Muslim hanya perlu membuat bank menjadi tidak diperlukan. Adapun mengenai kehancuran segala sesuatu termasuk alam dunia fana ini, maka itu adalah mutlak urusan Allah subhanahuwata’ala. Seorang Muslim hanya didorong untuk taat dan patuh kepada Hukum-hukum Allah subhanahuwata’ala, dalam keadaan yang bagaimana saja.

Hakikat dan Syariat tidak dapat dipisahkan

Di dalam buku Kembalinya Khilafah, di bagian pengantar, Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi menyatakan bahwa buku tersebut adalah bagian dari ekspresi Khauf dan Raja’. Khauf dan Raja’ adalah sikap terpuji dalam Tasawwuf, yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Pengajaran Hakikat tidak boleh dipisahkan dengan pengajaran Syariat.

Miftahul Wird, di bagian pembukaan, disebutkan bahwa siapa saja yang membaca Miftahul Wird dengan mendapat izin dari seorang Syaikh atau seorang Muqaddim, maka Allah subhanahuwata’ala menjauhkan dari dirinya, maksiyat dan juga disatukan pada diri orang itu, Syariat dan Hakikat. Baca juga artikel ini.

Menyikapi Hadist tentang Dinar dan Dirham secara lebih Tepat

Rasulullaah salalahu’alaihiwasalam adalah panutan kaum Muslimin. Sudah selayaknya kaum Muslimin mengikut apa saja yang diberitahukan oleh Rasulullaah salalahu’alaihiwasalam termasuk dalam hal yang sangat penting di jaman ini yakni dinar dan dirham. Berikut adalah beberapa hadist mengenai dinar dan dirham:

”Akan tiba suatu masa pada manusia, pada masa itu tidak ada apapun yang bermanfaat selain dinar (uang emas) dan dirham (uang perak)” (Musnad Imam Ahmad Ibn Hanbal).

“Pada akhir zaman, manusia di masa itu semestinya memiliki dirham-dirham dan dinar-dinar untuk menegakkan urusan agamanya dan dunianya” (Hadits riwayat Imam Al-Tabrani),

“Akan datang suatu zaman kepada manusia, barang siapa tidak mempunyai yang kuning (uang emas) dan yang putih (uang perak), maka tidak akan mendapatkan kemudahan dalam kehidupan.” (H.R. Ath-Thabrani dalam al-Kabir 17415 (20/278).

Sungguh dapat dipahami bahwa uang kertas tentu akan musnah karena ia pada hakikatnya hanya nilai yang dipaksakan untuk diterima. Hanya uang sejati yang bertahan. Informasi dari hadist ini juga digunakan sebagai dasar tindakan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin dinar dan dirham dan ini juga tidak terlarang selama zakatnya dikeluarkan manakala sudah mencapai nisab dan haul. Ada juga yang mengartikan sebagai datangnya suatu masa di mana yang dapat dipertukarkan atau dibelanjakan (memberi manfaat), hanya yang diterima secara luas sebagai uang seperti rupiah atau uang kertas. Sungguh, masa tersebut telah kita rasakan. Saat ini sangat terasa sulit apabila tidak ada uang yang dipegang, benda-benda lainnya hampir sama sekali tidak dapat memberi manfaat kecuali dijual untuk rupiah atau uang kertas lainnya namun terasa begitu sulit untuk dipertukarkan secara langsung dengan benda lainnya.

Dinar dan dirham sangat penting untuk menegakkan urusan agama terutama zakat mal dan juga urusan dunia di mana dinar dan dirham sudah dapat kembali digunakan sebagai uang dan diterima secara luas. Tanpa memiliki dinar dirham kehidupan seseorang menjadi sulit. Atau boleh dikatakan, di jaman sekarang, yang mana telah tiba masanya, seseorang yang tidak memiliki uang, hidupnya tidak mendapat kemudahan. Memperoleh segala sesuatunya menjadi sulit. Menyelesaikan segala urusan menjadi sulit, dalam kehidupannya.

Informasi dalam hadist sangat berguna untuk mencari titik terang mengenai kesulitan dan keadaan zaman. Keadaan yang sangat sulit dan sangat buruk. Ini berdasarkan hadist lainnya yakni “Tidak datang suatu zaman melainkan setelahnya semakin buruk.”

Di zaman yang demikian, solusi yang dicari selalu mencari kepada zaman terbaik yang pernah ada sebelumnya, yang dapat ditiru dan dicontoh modelnya dan zaman tersebut adalah zaman Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ittabi’in yang terekam pada perilaku penduduk kota Madinah al-Munawaroh di zaman tersebut. Kitab Al-Muwatta Imam Malik adalah rekaman dari situasi di zaman tersebut. Untuk transaksi bisnis, dapat merujuk kepada kitab Muwatta bab Transaksi bisnis kitab ke-31. Di dalam kitab tersebut diterangkan bagaimana berbagai persoalan transaksi bisnis diselesaikan menggunakan benda-benda selain uang. Tentu saja praktek-praktek yang ada di kitab tersebut sudah lama ditinggalkan. Ini adalah hal yang penting untuk mengikuti perilaku penduduk Madinah karena uang haruslah beredar. Sebab apabila sikap yang diambil adalah berupa penimbunan, maka itu bukan hal yang terlalu baik. Dalam hal ini, juga penting bagi siapa saja untuk mengetahui perbedaan antara Sunnah, Hadist dan ‘Amal dan mempelajari lebih jauh mengenai Akar Pendidikan Islam.

Scroll to Top