Derse Shaykh Abdalqadir as Sufi
Iman dan Pendidikan

Sumber: Catatan yang ditulis oleh Muqadim Malik Abdalhaqq Hermanadi
https://web.facebook.com/notes/337779954150121/

Sebuah terjemah dari sebuah derse Shaykh Abdalqadir as Sufi di Klontal, Swiss, 14 April 1990. Naskah aslinya bisa dilihat di sini http://www.fundacionalandalus.org/wp-content/uploads/2015/03/1990.04.14.-Iman-and-Education.pdf

Saya ingin menggeser pemaknaanmu terhadap Shari’at Islam. Jika diterjemahkan dengan benar artinya adalah ‘jalan besar’ yang berlawanan dengan kata Tariqat yang arti katanya dalam bahasa Arab adalah ‘setapak’ atau jalan pribadi. Sebagaimana hukum Romawi adalah sebuah sistem dari prinsip-prinsip yang tersusun/terstruktur yang dideduksi/dikumpulkan dari kasus-kasus tertentu, maka shari’at itu sesungguhnya berlawanan dari hukum (Romawi) ini. Shari’at adalah sebuah hukum alamiah. Hal ini adalah sesuatu yang kami pahami ada dalam tradisi bangsa Eropa karena dia yang termulia dari bangsa Eropa ini adalah Goethe dan filosofi lengkapnya Goethe adalah untuk mengenali tidak saja bahwa hukum alamiah adalah sebuah metamorfosa, (maksudnya) mengembang dan merubah, tetapi juga bahwa manusia adalah bagian darinya. Kita tidak berada di luar proses ini.

Saya juga akan membahas tentang arti pentingnya secara spiritual dari Nietzsche yang walau pun begitu jauh kemudian masa kedatangannya, ia adalah seorang anak dari Goethe. Jika kalian membaca tulisan-tulisannya kalian akan melihat betapa besar kekagumannya atas jiwanya Goethe. Ia melihat bahwa Goethe, dalam diri dan bagaimana ia terlibat dalam kehidupan, memiliki berbagai kualitas dari apa yang disebutnya sebagai apa yang dimiliki Übermensch, yaitu ‘pribadi-besar’ yang diserunya untuk menyelamatkan kesadaran dari kehancuran oleh keinginan orang banyak. Nietzsche, dalam kesadaran nubuatnya – maksudnya melalui rasa akaliahnya – telah meramalkan kehancuran yang akan datang itu.

Kami telah katakan bahwa Shari‘at Islam sebagai sesuatu yang alamiah/fitrah, dan sebagai sesuatu yang menyatu dengan sisi pemenuhan/kepuasan yang berevolusi/senantiasa berubah – bukan pada makna evolusi dalam pengertian evolusinya Darwin – melainkan dalam pengertian umumnya yakni pertumbuhan dan pembangunan. Kini kita tiba di Tariqat yaitu (jalan) setapak, Shari‘at kecil, yaitu yang berhubungan dengan keterkaitan pribadi dan jejaring masyarakat. Tariqat adalah bagian kedua dari Islam yang lengkap, yang didefinisikan dalam bahasa hukum Islam sebagai Iman. Iman terdiri dari beberapa hal seperti yang disabdakan Rasulallah, sallallahu ‘alayhi wa sallam, dan diawali dengan beriman/meyakini Allah. Hal-hal (yang diimani) itu berlanjut hingga melingkupi hal-hal yang bisa kalian sebut sebagai suatu tataran tak terlihat – Gaib, sebuah dimensi sempurna kehidupan lain yang tak terlihat.

Yang menjadi menarik adalah bahwa tidak bisa lagi membincangkan yang Gaib ini dengan makhluk moderen hasil ciptaan masyarakat perkakas, ‘negara teknik’ itu, dan karenanya sebagian dari sempurnanya kehidupan insan disisihkan. Perihal ini telah dibagi-bagi di antara para saintis-palsu yang telah dihadirkan di dunia moderen ini justru untuk menangani unsur-unsur pengganggu/penggugah di antara massa/orang banyak/khalayak ramai – jenis makhluk, yang boleh dikatakan, menurut spesiesnya masih sama, hanya saja mereka berkata, “Ada hal-hal yang tidak bisa saya lihat”, “Ada sebuah dunia yang tidak bisa saya lihat”, “Saya telah bermimpi”, “Saya telah melihat sebuah penyaksian”, “Seorang yang telah mati berbicara kepadaku”, dan sebagainya. Semuanya ini telah mereka bagi-bagi dan mereka telah menciptakan suatu pasar esoteris untuk menanganinya.

Mereka menciptakan sebuah gairah romantis terhadap agama purba, terhadap segala yang esoteris dan menarik yang tidak akan pernah mengancam keberadaan budaya perkakas itu, namun memberi kesempatan khalayak yang memiliki sejumput khayalan untuk disudutkan di sebuah pojokan, dimana mereka dapat memuaskan ketertarikan mereka dalam perkara-perkara tersebut, bahkan sampai menganyam mereka menjadi suatu perkara metafisik-palsu yang penting.

Kelompok pribadi yang lain berkata, “Ya, saya melihatnya. Saya sadar dan saya melihatnya.” Lalu mereka berkata, “Ya begitulah, yang kamu lihat itu adalah stres.” Lalu mereka menempatkan orang ini dalam kelompok kesehatan, sehingga sebuah arena ruhaniah sempurna direndahkan di dalam analisa medis dan menjadi sebuah persoalan medis. Ia menjadi sebuah persoalan neurosis/penyakit berhubungan dengan syaraf dan yang ekstrimnya suatu psikosis/penyakit berhubungan dengan jiwa. Si penderita psikosis ini melihat apa yang tidak ada di sana, dia benar-benar melihat apa yang tidak dilihat orang-orang lain, dan karena mereka tidak melihatnya, maka kesepakatan umumnya adalah bahwa orang itu (si pasien) gila, itulah mengapa didapati bahwa di antara mereka yang berakal dan mereka yang berakal di kalangan medis, sebuah pertanyaan tentang apa yang menurut pikiran moderen adalah gila itu. Bukan sebuah pertanyaan tentang kegilaan itu sendiri, melainkan tentang suatu definisi moderen tentang kegilaan yang selanjutnya mereka kenali secara politis sebagai mengandung sebuah penolakan atas identitas/jati diri dan kebebasan dari ‘yang lain’, bagaimana pun tak bisa ditolerir/diterimanya perbedaan dan ‘kelainan’-nya diri pribadi itu.

Kita tak bisa menghindar tentang keberadaan suatu pengalaman asli tertentu, dan saya tidak bicara tentang fantasi/khalayan, yang telah direndahkan dalam evaluasinya dan telah dinista secara politis karena hal itu ditempatkan sebagai ciri dari psikosis/penderita penyakit jiwa. Ini sangat penting. Kalian harus tahu bahwa di bagian akhir hidupnya Jung [Carl Gustav Jung, psikiatris Swiss] berusaha menemukan sebuah cara untuk membahas diri/jiwa manusia tanpa harus menolak keabsahan yang Gaib itu. Seluruh tulisannya tentang kimia dan simbol-simbol Yunani adalah sebuah pencarian spiritual, yang tampak agak konyol mengingat asal-usulnya di dunia, untuk mengakui kenyataan tentang yang Gaib itu. Karyanya tetaplah luar biasa dan sangat penting – bukan dalam teorinya tentang bagaimana ia menafsirkan hal itu, melainkan pada pengakuannya baik secara klinis dan akaliah bahwa hal itu ada.

Penolakan atas yang Gaib memiliki dimensi politis, mistis dan akaliah. Lalu bagi orang banyak/massa telah dimunculkan sebuah industri serius majalah dan buku-buku. Kalian bisa melihatnya kini di setiap toko buku terdapat satu bagian tentang okultisme, tentang tafsir mimpi-mimpi dan lain-lain, yang sama besarnya dengan bagian (buku-buku) kesehatan tubuh, yang merupakan suatu penataan terhadap sebentuk kekecewaan kesadaran yang melelahkan karena seakan-akan menghasilkan bukti-bukti tentang sesuatu yang sebenarnya tidak ada di sana.

Seluruh perihal dari Iman: percaya kepada Allah, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, bangkitnya tubuh dari kematian dan sebagainya – seluruh perihal yang berhubungan dengan alam yang Gaib itu mendefinisikan Iman. Iman itu sendiri bermakna ‘keyakinan’. Keyakinan sebagai nilai moral dan etis yang telah ditanggalkan dan tak lagi berada dalam daftar ajar/kurikulum pendidikan banyak orang bahkan tidak ada juga di lembaga pendidikan yang lebih bagus, karena telah direndahkan dan para gurunya di situ muncul dengan sikap kerja/etos seperti (mereka yang mengajar) di sekolah umum/orang banyak.

Keyakinan bukanlah sebuah nilai etis kecuali jika dijalankan. Keyakinan, kecuali jika dijalani sebagai pengalaman hidup, tak dapat menjadi pengalaman/dirasakan, tak bisa dikenali atau disadari secara filosofis berkenan dengan mulianya jiwa. Jika keyakinan tidak/belum tertanam pada kesadaran maka ia tak akan wujud sebagai sebuah nilai abstrak dan ini mempengaruhi seluruh pemahaman atas transaksi usaha/perdagangan/bisnis. Dalam Islam, seluruh transaksi usaha didasarkan pada perkara ini, pada nilai seseorang untuk memenuhi tidak saja dalam pertukarannya, melainkan juga pembayaran yang tertunda. Bahkan hutang ini pun tidak sama seperti hutang yang dirasakan di jaman/masa (berjayanya) keyakinan, sebab di masa itu sebuah hutang adalah sesuatu yang dilupakan – oleh kedua pihak – hingga dibayar. Karena sebuah hutang dalam sebuah masyarakat non-keyakinan, yaitu di masa kini, adalah sesuatu yang tidak akan dilupakan. Kalian hidup di dalamnya, dan kecemasanmu atas belumnya pembayaranmu dan kecemasan dia yang harus dibayar yang yakin bahwa dia tidak akan dibayar, merupakan keadaan pribadinya. Mereka tidak saja tidak yakin pada saat perjanjiannya, bahkan mereka pun hidup di dalam sebuah kehidupan pengalaman non-keyakinan: “Saya tak akan dibayar (kembali)!”, “Saya tak bisa membayar!” Seluruh hutang Dunia Ketiga adalah sebuah pemisahan/pengelompokan kehidupan dari jutaan orang sebagai kelompok tidak berharga karena mereka tidak lagi bisa membayar (hutang pemerintahnya).

Wakil pimpinan Bank Dunia ditanyai mengapa mereka bisa memperoleh lebih banyak uang/laba melalui hutangnya pada negara-negara itu dari pada pinjaman yang mereka berikan. Untuk menutupi rasa malunya, dia berkata, “Ya, kami sekarang memiliki sebuah program yang benar-benar baru, karena kami telah meminjamkan uang dan tidak menerima pembayaran, dan kita akan lagi memberikan pinjaman uang kepada tikus-tikus untuk terus hidup di selokan-selokan.” Inilah pandangannya/penilaiannya atas sebagain besar insan manusia! Inilah kehidupan masyarakat tempat kita hidup dan juga penilaiannya yang mempengaruhi situasi rumah tangga umumnya.

Penilaian itu sendiri adalah sebuah penghinaan namun yang (lebih) ajaib adalah kepasifan/kerelaan penerimaan atas hal ini. Ada ketidaksukaan pada khalayak manusia yang bukan sekedar perkara mental/jiwa. Karena tidak ada sesuatu apa pun di dunia ini yang tidak bisa disebut mental/jiwa jika berkaitan dengan makhluk yang sama. Tak ada suatu yang nyata dalam ‘pementalan’ seperti itu, sebab satu-satunya pementalan yang tidak terkait pada keberadaan kerumitan fisik adalah pementalan/keadaan jiwa para pasien psikosis/penderita sakit jiwa yang telah memutus diri mereka dari tubuh-tubuhnya karena tubuh tempat mereka tinggal itu bukanlah merupakan sebuah tempat di mana mereka mau tinggal lagi. Maka mereka telah menetapkan bagi dirinya bahwa mereka berada di bulan atau tempat manapun yang mereka anggap sebuah tempat aman bagi dirinya. Saya pikir tidak ada pementalan itu. Bahkan jika kalian memikirkan ide-ide abstrak atau melakukan (perhitungan) matematika maka semua itu sesungguhnya adalah sebuah ekspresi keberadaan kehidupan harianmu, ‘Keberadaan diri’-mu.

Iman karenanya, adalah bagaimana hubungan kita terhadap yang Gaib dan penerimaan kita padanya. Bagaimana kita bisa menerimanya jika kita telah terpapar ke dalam sebuah kecemasan yang tidak mengijinkan kita untuk bisa melihat sebuah pandangan atas yang Gaib yakni ketersembunyian yang lain, yang tak lain dan tak bukan adalah diri mereka sendiri, sebagai yang seluruhnya tidak bisa dipercaya dan tidak akan menghormati kita karena kehormatan tidak (lagi) diajarkan? Tak ada lagi konsep, tak ada doktrin dan tak ada pengajaran tentang nilai etis kehormatan sejak dibangunnya kembali sekolah bagi orang banyak/massa sejak tahun 1945 hingga 1950 di Eropa. Saya tidak bisa bicara tentang bagian dunia lainnya. Saya diberitahu oleh beberapa cendekiawan China bahwa pengajaran Konfusianisme – yang bisa dianggap setara dengannya – juga tidak lagi disampaikan di sekolah-sekolah Mandarin, sehingga ini bisa disebut sebagai sebuah kejadian mendunia/global, hanya saja saya hanya akan membahas tentang apa yang kita ketahui sebagai tradisi Eropa. Itulah sebabnya kota-kota telah runtuh, tak seorang pun aman, dan khalayak tak putus-putusnya berbincang tentang masa di mana mereka biasanya bisa membiarkan pintu rumahnya terbuka dan selanjutnya dan selanjutnya.

Dalam sebuah masyarakat Islami, kalian akan aman di kota dan pada waktu itu ada anggapan bahwa di pinggiran kota/di kampung, di tempat-tempat yang liar, kalian tidak aman dan untuk pergi ke sana kalian harus membawa senjata. Di tempat para pria dan wanita-wanita hidup bersama dimana terdapat Shari’at ini, hukum alamiah/fitrah ini, maka kalian aman. Hari ini, kebalikannya! Jika kalian pergi ke pinggiran kota/kampung, pintu rumah mereka terbuka dan kalian aman bersama mereka, namun di kota peluangmu (memperoleh keamanan) semakin berkurang setiap hari. Beberapa kota bahkan sudah melampaui batasan berbahaya – seperti yang dikatakan seorang polisi kepada saya di New York: “New York baik-baik saja, asalkan kamu tidak keluar dari hotelmu! (Di luar) Sangat berbahaya.”

Ini terjadi bukan karena terjadinya Rock and Roll dan pemasaran obat-obatan/narkoba – mereka itu adalah akibat-akibatnya dan bukanlah penyebab-penyebabnya. Obat-obatan adalah sebuah pengaruh dari sebuah masyarakat yang telah menerima nilai-nilainya lalu menyingkirkannya. Pada intinya kalian tidak bisa memiliki unsur etis kehormatan dan keyakinan yang didasarkan pada pengalaman lahiriah perjumpaan dengan yang lain seperti dia yang berada di depan saya ini karena seluruh unsur keyakinan itu berhubungan dengan yang Gaib. Hanya jika kalian sungguh-sungguh yakin terhadap unsur mendasar yang membangunnya, yakni bahwa Kenyataan itu sendiri yang harus diyakini, maka kalian tidak akan bisa meyakininya di dalam perkara-perkara khususnya.

Jika kalian tidak memiliki Iman, jika kalian tidak memiliki keyakinan pada Allah, maka tentu saja kalian akan berpikir, “Apa yang diciptakan-Nya itu merugikanku, dan jika apa yang diciptakannya itu tidak diciptakan oleh Sang Pencipta yang penyayang maka sudah tentu saya berada dalam keadaan rentan yang berbahaya.” Hanya saja keyakinan yang seperti itu bukanlah keyakinan akaliah yang muncul dengan sendirinya, itu adalah sesuatu yang disebarluaskan/disiarkan, dan itu juga adalah sebuah proses pendidikan.

Saya akan berbicara tentang pendidikan – namun tidak dalam artian pedagogisnya, tetapi pendidikan dalam pengertian kata bahasa Inggris ‘membesarkan/membina/meningkatkan’ – membesarkan anak. Beberapa hal yang akan saya katakan mungkin terdengar asing/aneh dan beberapa mungkin baru didengar, namun kalian harus mengerti bahwa para Sufi bukanlah esoteris/penggemar kebatinan, mereka bukan orang-orang yang membaca naskah dan menafsirkannya dalam sebuah cara yang membuat khalayak merasa nyaman. Itu bukan tasawwuf. Abu Madyan , seorang Sufi besar dari Maroko berkata, “Sufisme tak lain adalah belajar.” Shaykh Muhammad ibn al-Habib, radiyallahu ‘anhu, berkata, “Sepengetahuan kami, para Shaykh adalah para dokter, Salihun – mereka yang berakhlak mulia – adalah para perawatnya, dan dunia ini adalah rumah sakit.”

Ketika pengajaran seperti ini hidup maka ia tidak berurusan dengan perasaan pribadi-pribadi, hak-hak, kebiasaan-kebiasaan, para Shaykh, berbagai Tariqat, upacara bay’at/inisiasi, memberikan tangan dan semua sampah itu – itu tidak menarik. Yang menarik adalah memuliakan orang-orang, karena inilah Islam itu, dan itulah, dalam istilah moderennya, apa yang diperlukan. Manusia telah direndahkan. Dia kini sudah masuk katagori ‘sub’ (bukan manusia aslinya/di bawah manusia). Kita telah dijadikan sebagai sub-human (di bawah manusia). Karena itu kita harus meraih gambaran Nietzsche tentang menjadi Übermensch sebagai sebuah tugas Islami kita, sebuah seruan Islami. Da’wa Islam adalah menyeru manusia agar menjadi lebih dari mereka sebelumnya. Seperti ditunjukkan Nietzsche, kalian tidak bisa tiba-tiba memiliki seorang Overman (orang besar/mulia), kalian harus membangun sebuah jembatan menuju Overman sambil berkata, “Jalan yang kita tempuh ini tidak memadai, kita telah direndahkan, maka kita harus secara sadar merubah diri-diri kita.”

Kita tidak bisa mengubah orang banyak/massa, karena di dalam orang banyak terdapat banyak sekali penyakitnya, namun mereka yang memiliki kesadaran haruslah mengajari kembali diri mereka dan dari elit yang belajar kembali itulah akan menghasilkan khalayak pahlawan yang akan mampu pada saatnya untuk membawa kembali perihal itu ke derajat sempurna pada umumnya – manusia umumnya – yang telah hilang itu. Pertanyaannya adalah maukah engkau mengembalikannya atau tidak. Jika engkau menginginkannya kembali, maka di sinilah tempat tantangan Tariqat itu berada, dimana engkau melangkah menjauh dari menjadi seorang penerima pasif di dalam sebuah dunia negara perkakas yang mendiktekan segalanya kepadamu dan menukar keterlibatan aktif penuh kesadaran dalam proses kehidupan dengan hidup dalam kecemasan, merasa tak bisa berbuat apa-apa, yang telah siap terpasang, secara terus menerus tentang suatu hutang yang terus menerus bertambah karena beban ribanya yang tak terbayarkan kepada orang-orang yang tidak pernah engkau lihat karena hutangmu kepada bank bukanlah hutang kepada Tuan Smith atau tuan Jones, melainkan sebuah hutang kepada sebuah tempat pemujaan dan engkau bahkan belum pernah berjumpa dengan pendetanya yang akan, melalui mata uang itu, menghancurkan hidupmu, atau membiarkannya tertahan begitu hingga engkau mati, sembari membiarkan urusan pemakamanmu guna memperoleh tambahan hutang dari anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuanmu, dan bibi-bibi serta paman-pamanmu, keluargamu yang menderita yang harus menguburkanmu, atau jika mereka beruntung, mereka mengkremasimu maka selesai-lah sudah. Itulah situasinya.

Tariqat itu bagi mereka yang menginginkan perubahan pribadi untuk menciptakan sebuah masyarakat baru. Karena itu ini berarti sebuah elit (segelintir) yang harus mendapat pendidikan spiritual/ruhani. Inilah apa itu Tariqa, dan begitulah adanya dan di setiap jaman memiliki mata pengajaran yang berbeda karena setiap jaman memiliki penyakit-penyakitnya sendiri. Imam al-Ghazali, Sufi besar itu berkata, “Jika kalian pergi ke sebuah negeri yang banyak kemabukannya, berpegang teguhlah pada Shari’at yang melarang minum (khamr). Jika kalian pergi ke sebuah negeri yang dipenuhi syahwat dan mengumbar bebas hubungan kelamin, maka berpegang teguhlah pada hukum tentang zina dan sodomi”, untuk memuliakan masyarakatnya. Kini, kita berada di sebuah negeri riba dan karenanya kita harus berpegang teguh kepada hukum yang tidak hanya melarang/mengharamkan riba bahkan juga memberi petunjuk bahwa engkau harus memerangi riba itu, karena jika tidak maka engkau tidak bisa merubah sistemnya.

Inilah gelanggang asasi, yang saya maksudkan dalam pembicaraan hari ini. Ada unsur-unsurnya dan ini sebenarnya masalah prioritas/urutan kepentingan mana yang kita pilih, yang hasilnya akan sama saja di penghujung hari. Khalayak orang banyak sudah tidak lagi mampu berpikir dan ini tentu saja bukan pernyataan saya, ini adalah pernyataan seorang filosof besar sesudah Nietzsche, filosof yang berasal ketika generasi di kumpulan ini masih bayi. Heidegger berkata bahwa para filosof tidak menulis bagi masa kini, mereka menulis bagi masa depan, sebuah penggaungan kembali sebuah pernyataan dari Nietzsche.

Apa yang saya maksud ketika saya berkata bahwa khalayak orang banyak tidak lagi bisa berpikir: kemarin saya berpikir bahwa seorang pria sedang berpikir di jalur yang sama dengan diriku, namun kemudian saya melihat bahwa karena cara hidup keberadaannya sehari-hari, ia menganggap bahwa pembicaraan kita adalah semacam wilayah tujuan jelas yang darinya dia bisa beroperasi [tanpa melakukan perubahan apapun]. Sebenarnya untuk menggunakan istilah neurosis dan psikosis sungguh benar-benar tidak memadai, karena keduanya segera melebur satu sama lain dengan kecepatan mencengangkan! Engkau berpikir bahwa engkau menyatakan sebuah pernyataan masuk akal kepada seseorang yang dengan semestinya akan menerima sebuah pernyataan rasional itu dan selanjutnya akan menjawab “ya” atau “tidak” padanya, hanya saja engkau kemudian menyadari bahwa pernyataanmu itu sama sekali tidak bisa masuk menembusnya karena ternyata mereka memiliki latar batin berbeda tentang bagaimana kehidupan ini yang tidak dapat engkau tembus.

Perihal ini membawa kita kepada pertemuan antara Ibn al-’Arabi, Shaykh al-Akbar, Qutb terbesar, Sufi terbesar ketika dia masih remaja, dan Averroes – Ibn Rushd, filosof terbesar abad pertengahan yang memberikan seluruh perangkat teknis berpikir yang darinya filosofinya Jerman dibangun dan karenanya sistem teknik, yang kita semua ini hidup di dalamnya. Ibn al-‘Arabi dibawa oleh ayahnya kepada Ibn Rushd yang mulia itu, yang saat itu sudah tua dan sedang mengajari para pelajarnya. Shaykh al-Akbar muda, Ibn al-‘Arabi, duduk di sudut dan mendengarkan setiap perkataan Ibn Rushd. Di akhir pemud berkata, “Betul! Betul! Betul!” Ibn Rushd berkata, “Pemuda yang pandai!” Ia berkata pada ayahya, “Engkau memiliki seorang anak yang pandai, dia akan melaju sangat jauh, dia boleh datang lagi esok hari.” Maka esok harinya Ibn Rushd mengajari para pelajarnya filosofinya Aristoteles dan Ibn al-‘Arabi duduk dan menyimak, lalu dia berkata,“Tidak! Tidak! Tidak!” Tentu saja sang filosof sama sekali tidak menyukai itu, sehingga saat pelajaran selesai ia berkata kepada sang ayah, “Tahu tidak, anakmu itu anak yang sulit, saya bisa melihat bahwa kamu akan memiliki masalah dengannya.” Lalu beliau menengok kepada si pemuda dan berkata, “Mengapa engkau berkata ‘Tidak’ kepadaku?” Ibn al-‘Arabi menengok kepada sang guru besar dan berkata, “Itu karena saya tiba-tiba melihat bahwa antara ‘Betul’ dan ‘Tidak’ akan banyak leher-leher dipotong dan akan banyak kepala-kepala tercopot dari pundak-pundaknya.”

Kesadaran inilah yang dibutuhkan. Perkenankan saya menterjemahkannya ke bahasa moderen: apa yang dikatakan si anak muda Ibn al-‘Arabi itu adalah jika kita menciptakan sebuah masyarakat yang didasari struktur rasional, itu akan menyebabkan kematian berjuta-juta orang, itulah apa yang telah terjadi di abad dua puluh baik oleh fasisme dan komunisme: “Kami akan mendirikan sebuah negara dengan struktur yang membawa kebaikan bagi warganya” – dua model nyaris serupa yang menghasilkan kematian jutaan orang dan penghancuran seluruh budayanya.

Maka kesadaran seperti itu tidak akan membawa seseorang kepada kekacauan anarkis. Hal itu akan membawa seseorang pada posisi Ibn al-‘Arabi yaitu pemahaman atas kehidupan. Inilah jalannya para Sufi, yakni memahami bagaimana caranya sesuatu itu bekerja. Yang kita bicarakan itu bukanlah perihal ide-ide dalam pengertian sebagai konsep-konsep, bukan pula itu sesuatu yang berupa ideologi – ini adalah perihal bagaimana engkau akan melakukan sesuatu. Ini seperti memasak – pembahasan sebelum membuat masakannya bagaimana engkau mau membuat masakannya, karena engkau bisa memasaknya menurut cara masak orang Itali atau bisa juga dengan cara masak orang Prancis. Apakah engkau mau memakai butter/mentega atau minyak goreng? Pada akhirnya, bagaiman kta bisa memperoleh masakan yang enak dimakan dan menarik dilihat? Inilah cara berpikir yang diperlukan, namun ini bukanlah seperti cara berpikir yang telah diterapkan pada urusan pendidikan insani dan pendidikan diri di masa ini, yang setidaknya telah mulai ditinggalkan.

Kita tidak bisa mencampurkan apa yang sedang kita kerjakan dengan segala bentuk kemerosotan, karena tidak berijin, dari perilaku esoteris, apa-apa yang menyebut dirinya itu sebagai Sufisme – senantiasa ada saja kelompok orang seperti ini di dunia. Mereka harus menyadari bahwa ini adalah sebuah proses dimana engkau tidak bisa dengan sendirinya membina batinmu sendiri lalu melanjutkan hidup sebagai seorang manusia untuk membesarkan anak-anakmu seperti yang telah mereka lakukan di luar sana: perilaku itu telah merubah kota Zurich dari sebuah kota indah dan menawan menjadi sebuah mimpi buruk, New York sebuah neraka, dan Berlin lebih buruk lagi – kota-kota mengerikan yang mematahkan hati karena sesungguhnya mereka telah rusak.

Saya menawarkan sebuah cara pandang perubahan dirimu yang melibatkan tanggungjawab perubahan pada anak-anakmu. Atau, dengan menggunakan istilah Goethe, agar anak-anakmu mentas, bukan dengan cara membesarkan anak seperti yang telah dilakukan oleh negara-negara fasis dan komunis terhadap warganya.

***

Mari kita mulai dengan pendidikan sang anak. Ini didasarkan pada perandaian bahwa kita telah sepakat tentang bagaimana hal-hal itu senantiasa berubah dan bahwa kalian telah memiliki suatu gairah kesadaran untuk merubah diri kalian sendiri, agar bisa mengejewantahkan pendidikan bagi generasi berikutnya dan karenanya, karena bukti itu, menjadi pemimpin-pemimpin sebuah masyarakat baru. Jika engkau mengikuti program ini engkau segera menjadi, bukan karena gelar, organisasi atau nama, para pemimpin masyarakat karena hanya engkaulah satu-satunya yang bebas merdeka di dalamnya. Apa yang menarik adalah bagi sebagian besar banyak orang mereka berpikir bahwa pendidikan dalam arti pedagoginya bermakna ‘sekolah bermain’ (taman bermain) padahal secara sederhana itu bermakna membuat anak lepas dari dekapan ibunya. Sang ibu berada dalam rumah borjuisnya, biasanya sendirian, dan sang suami berada di luar melakukan apa yang disebut sebagai ‘bekerja’ untuk memperoleh pendapatan bagi kehidupan mereka, (kehidupan) yang tidak mereka jalani karena sang anak berada di sekolah bermain, sang ibu melongok keluar jendela sambil bertanya-tanya di negeri mana dia berada dan suaminya sedang dimaki oleh seseorang di sebuah kantor – lalu itulah kehidupan yang yang mereka ‘dapatkan’.

Sekolah (taman) bermain adalah sebuah alasan. Ia tidak memiliki dasar-dasar intelektual yang kuat. Jika kalian berkunjung ke sebuah sekolah bermain, kadang kala berjumpa orang-orang yang baik, beberapa di antaranya bisa ditoleransi, hanya saja pada dasarnya melibatkan dua hal: yang pertama adalah terapi manipulasi dengan benda-benda dan dengan krayon-krayon – sebuah ide mengerikan yang dilakukan semua warga borjuis Eropa terhadap anak-anaknya yakni engkau berikan mereka krayon dan mereka melakukan apa yang disebut sebagai ‘mengungkapkan diri mereka sendiri’! Mereka itu, tentunya, benar-benar sedang menghancurkan jiwa makhluk-makhluk yang perlu dikasihani ini. Mereka pun memastikan bahwa si anak tidak pernah sendirian dengan senantiasa menggabungkan mereka ke dalam kelompok, maka inilah pabrik sebenarnya dari produksi manusia kebanyakan yang akan bertoleransi pada yang lain dan tidak memiliki jati diri sedikit pun.

Setelah itu tibalah masa sekolah persiapan, bagian dari pendidikan Pertama dimana engkau bisa tahu apa mata pelajarannya. Selanjutnya bagian Lanjutannya, yang serius yang terletak di antara sekolah ‘Persiapan’ dan Universitas dimana mereka berada dalam genggaman mata pelajaran dan guru-guru, yang semuanya adalah produk hasil dari negara dan sistem yang sama.

Ingat bahwa segala yang merupakan pendidikan kini, bahkan sekolah swasta yang bagus pun, nyatanya berasal dari negara. Pendidikan ini tidak bisa dibandingkan baik dalam kualitas atau pun bahan-bahan ajarnya kepada pendidikan yang ada sebelum 1939, karena seluruh sistem yang lalu itu telah disapu bersih. Pada dasarnya, apa yang kini mereka ajarkan itu mengambil ideologinya dari Frankfurt, dari sekelompok filsuf, yang sembilan puluh sembilan persen dari mereka itu yahudi, yang menyebut diri mereka ‘Aliran Frankfurt/Frankfurt School.’ [walaupun mungkin, saya tak akan mau menggunakan istilah Madhab untuk menyebut aliran ini – penterjemah]. Kita bisa menyebut ajaran ini ‘penyusutan kritis’ karena tekniknya adalah dengan bertindak kritis dan mempertanyakan segala sesuatu. Sehingga proses pendidikannya adalah dengan mencegah keyakinan, dengan melihat pada objeknya dan berlaku skeptis/curiga padanya. Kalian harus meragukan bahwa itu ada di situ, maka kalian harus memeretelinya dan menemukan apakah ‘keberadaan’-nya itu! Dengan melakukan itu maka kalian telah menyusutkan nilainya karena kalian telah mencabutnya dari keseluruhan dirinya, dan melalui penyelidikan atas bagian-bagiannya, maka senantiasa terserah kepadamu-lah penyatuan kembali berbagai bagian itu.

Lagi-lagi, inilah sebenarnya apa yang ditentang oleh Goethe sepanjang kehidupannya dan yang ada di semua surat-surat panjangnya kepada saintis-saintis itu: baik kepada apa yang disebut sebagai ahli anatomi di masanya, para evolusionis yang baru muncul yakni mereka yang meneliti hubungan-hubungan antara tulang belulang rangka hewan dan manusia, dan tentu saja ahli botani dan biologi. Tentang perihal berikut inilah kandungan berbagai surat-menyurat Goethe dan rangkaian karya-karya utamanya itu: peringatan terhadap suatu penelitian saintifik yang jika digunakan sendiri pada diri manusia maka manusia itu sendiri akan dipereteli. Goethe berkata jika engkau meleraknya, maka engkau tidak akan bisa menyatukannya kembali dan hanya karena proses tersebut terjadi terjadi maka menjadi mungkinlah bagi Hitler dan bagi Stalin untuk berkata, “Orang-orang ini adalah sebuah gangguan kepada negara oleh karenanya kami akan menempatkan mereka di sebuah kamp kerja paksa.” Jika itu telah terjadi maka tinggal satu langkah lagi untuk berkata, “Tentu saja, jika mereka menyusahkan, bunuh mereka!” atau “Baiklah, kita sedang kekurangan makan maka jangan berikan kepada mereka, berikan saja kepada orang-orang kita!” Hingga pada akhirnya korban kamp konsentrasi – dan saya tidak suka menggunakan kata ‘korban’ – warga kamp konsentrasi, atau penguasanya, menjadi sesuatu yang tercapai, melalui proses rasional serius dari penyusutan kritis itu. Inilah apa yang diajarkan Aliran Frankfurt itu.

Yang menarik adalah bahwa ideologi yang berakhir dengan penyiksaan kaum yahudi itu secara intelektual adalah hasil kontribusi mereka sendiri, yang dalam bentuk terjahatnya bertanggungjawab pula atas pembuatan bom atom. Cara pikir ini melucuti atom lalu mereka berkata, “Nah, jika kita kelupas atom maka ini lebih menarik dari pada jika ia berupa kesatuan!” Maka dengan kata lain, jika ciptaan, yang merupakan kehidupan itu sendiri, jika itu kita hancurkan, dirusak strukturnya dan dipecahuraikan, maka tidak saja atomnya terpecahuraikan melainkan juga akan menghancurkan kota-kotanya di saat yang sama. Maka senjata inipun adalah sebuah produk dari sebuah cara pikir yang berupa perlucutan kritis pada segala sesuatu dengan tujuan untuk mengendalikannya – menjadi penguasa-penguasa terhadapnya.

Beginilah dasar metodologinya, bukan ideologinya, dari pendidikan Barat paska 1945 dan yang karenanya berlawanan dengan apa yang dianggap oleh para Sufi sebagai pendidikan itu. Saya menyatakan sebuah pernyataan bahwa kami menunjukkan bahwa jalannya para Sufi adalah jalan yang benar, sedangkan jalan mereka adalah bertentangan darinya, menghasilkan akibat-akibat yang berlawan.

Sebagai contoh: jika engkau seorang pelajar universitas yang memiliki gelar master dan engkau ingin menjadi seorang doktor filosofi, “Saya ingin menjadi PhD.” Maka engkau akan mengambil sebuah subjek yang tidak kalian kenali dan kemudian engkau akan merincinya, mengecamnya dan menyusutkannya, menolak hal-hal tertentu, menerima hal-hal tertentu lainnya, selanjutnya menilainya kembali dalam sebuah kerangka kerja dari segala sesuatu yang telah dide-konstruksi dan dinilai ulang. Maka engkau akan berkata, “Tentang hal itu, kini saya mengevaluasinya sebagai ini, bukan itu, tetapi ini.” Dan setelah engkau melalui proses ini mereka berkata, “Sekarang engkau adalah anggota dari masyarakat kami, engkau kini adalah Doktor ini.”

Bukan saja ini bertentangan dengan para Sufi, itu pun bertentangan dengan Plato dan seluruh tradisi pembelajaran Barat, karena dari akademinya Plato hingga majelisnya para Sufi, pengajarannya senantiasa sama, yakni duduk bersama sang guru. Pengajaran bukanlah ide, ia adalah penyambungsiaran/transmisi. Duduk di depan sang guru adalah seperti menempatkan sebuah kamera di depan sebuah benda. Si pelajar penerimanya serupa selaput emulsi film yang ketika cahaya hadir mencerap gambarnya – mencerap seluruhnya langsung dari sang guru. Ini berakibat sangat jauh dan luas.

Jika saya bercerita di awal tentang kisah ini, maka mereka yang esoteris/penggemar kebatinan akan berkata, “Wah hebat ya, seru ya!” dan berpikir bahwa ini adalah sesuatu yang klenik namun saya akan menunjukkan bahwa ini adalah hal yang serius, praktis, dan nyata. Saya sedang duduk-duduk di Abu Dhabi suatu sore bersama sekelompok Sufi dan diantaranya ada seorang Shaykh buta yang sudah tua dari Hadramaut yang amat mencintai saya dan kami biasanya bertemu dua kali seminggu dan duduk bersama dan berbincang-bincang. Hal-hal yang luar biasa terjadi di antara kami dan saya sangat menshukurinya. Namanya Shaykh ‘Ali. Suatu hari ia berkata, “Saya dengar engkau memiliki Wird yang sangat indah.” Saya berkata, “Benar, itu Wird dari Shaykh saya.” Ia lalu berkata, “Berikan padaku ijin pada Wird-mu itu, berikan padaku, berikan Wird-mu padaku!” Murid-muridnya tidak suka sama sekali pada hal ini dan mereka berkata, “Apa ini yang kalian bincangkan?” Dan ia berkata, “Diam, tuan-tuan! Katakan padanya untuk memberikan padaku ijinnya!” Maka saya berkata, “Saya memberimu ijin kepada Wird saya.” Ia menjawab, “Oh! Betapa luar biasanya ini! Saya memberimu seluruh Wird saya! Saya memberimu seluruh Dhikr saya yang telah saya peroleh dari seluruh Shaykh saya, semuanya untukmu, saya berikan seluruhnya padamu! Kini berikan semua milikmu!” Ia lalu berkata, “Sekarang saya memiliki apa yang engkau ketahui dan engkau memiliki semua yang saya ketahui!” Seseorang tersenyum dan berkata, “Betapa indahnya ini, betapa luar biasanya ini,” sedang yang lain geram dan sangat marah! Yang lain berkata, “Apa yang terjadi, kalian sedang berbicara apa, apa ini?”

Contoh lainnya adalah bahwa saya duduk bersama Shaykh saya lebih dari tiga tahun. Saya berkumpul bersamanya dan hingga tahun terakhir saya tak mengerti satu kata pun yang telah disampaikan. Kadang kala hal-hal diterjemehkan untuk saya, namun jika beliau duduk di sana saya pun duduk dan tidak bergerak hingga beliau pergi. Satu hari, ketika kami memberikan sebuah derse dan seorang Arab yang mengenal Shaykh Muhammad ibn al-Habib, radiyallahu ‘anhu, duduk di sana dan mulai menangis lalu berkata kepada Hajj ‘Abdalhaqq, “Setiap kata yang diucapkannya, diucapkan oleh Shaykh Muhammad ibn al-Habib. Segala yang dikatakannya, adalah hal-hal yang dikatakan Shaykh Muhammad ibn al-Habib, radiyallahu ‘anhu.” Jadi inilah transmisi itu. Sebaliknya, kalian bisa saja memperolehnya melalui komputermu, namun itu tidak sama.

Salah satu alasan mengapa Islam tak lagi sesuai ciri sahihnya, adalah karena ulama yang mengumpulkan Hadith. Apa yang mereka lakukan sangat cemerlang, dan saya tidak mengatakan bahwa itu tidak sahih, bahkan sebaliknya, itu adalah hal yang menakjubkan bahwa mereka telah mengumpulkan segala sesuatu dari perkataan Rasulallah sallallahu ‘alayhi wasallam, ratusan tahun yang lalu, dan menjadikannya sebagai sebuah keahlian. Hanya saja, orang kebanyakan berkata, “Oh, ada Hadith yang berkata demikian,” dan yang lainnya berkata, “Tidak, ada Hadith yang menyatakan begini dan begitu.” Coba mereka pergi ke Tunisia dan bertemu dengan Junjungan mereka, Shaykh Shadhili an-Nifa, yang kini sudah tua. Beliau tahu semua Hadith dan memiliki perpustakaan terbesar di jaman Islam moderen ini, pada kenyataannya beliau hanya diajari seratus Hadith oleh guru Hadithnya yang duduk di depannya dan berkata kepadanya, “Shaykh saya fulan ibn fulan memperolehnya dari Shaykh fulan ibn fulan, yang memperolehnya dari fulan ibn fulan, yang memperolehnya dari Sahabat Rasul fulan ibn fulan, yang mengatakan bahwa Rasulallah sallallahu alayhi wasalam telah bersabda begini dan begitu.” Jeger! – dan ia telah menyampaikannya.

Apakah engkau melihat apa yang terjadi? Bahwa itu terjadi melalui perjumpaan wajah dengan wajah hingga kepada Shaykh an-Nifa lalu kepada dia yang diajarinya. Inilah kuncinya. Ketika saya mengatakan bahwa saya seorang Shaykh, seorang dari orang-orangnya Shaykh al-Fayturi – karena adanya kecemburuan di antara para Murid – menemuinya dan berkata, “Tahu tidak Shaykh, bahwa ‘Abdalqadir berkata bahwa dia kini adalah seorang Shaykh, bagaimana pendapatmu?” Pertama-tama beliau berkata, “Shaykh ‘Abdalqadir memiliki sebuah maqam yang dikenali,” lalu kemudian beliau berkata, “Apa yang dimilikinya, dia peroleh dariku tangan ke tangan dan wajah ke wajah.” Inilah pengajaran.

Ada seorang pemain biola profesional, yang istrinya sedang hamil, dan dia biasa duduk bersama istrinya, yang dipikirnya sekedar ‘duduk-duduk’ biasa dan dia selalu duduk bersama istrinya, dan karena istrinya tidak bisa lagi banyak bergerak seperti biasanya untuk melakukan aktivitasnya, maka sang suami lalu mengambil biolanya dan memainkannya untuk sang istri yang hamil besar itu. Setiap hari dia akan memainkan lagu yang sama dan istrinya sambil duduk melakukan apa saja yang bisa dilakukannya untuk mengisi waktu hingga akhir hari, memikirkan segala hal yang akan dilakukannya, hingga anaknya lahir. Pada sebuah kondisi tertentu ketika jari-jari anaknya sudah berkembang dengan baik dan kuat, mungkin diumur lima atau enam tahun, pemain biola ini mengambil biolanya dan memberikannya kepada anaknya itu, ia menempatkannya di bawah dagu sang anak, menunjukkan kemana tangannya harus berada di senar-senarnya, memberikan penggeseknya ke tangan anaknya dan anak itu memainkan lagu tersebut, setiap nadanya!

Nah, bisa kalian lihat, bahwa cerita pertama adalah ‘cerita Sufi’ sedang cerita kedua adalah sebuah cerita Sufi yang menarik karena itu disebut sebagai riset ilmiah dan itulah pendidikan. Begitulah nilai-nilai disambungajarkan. Jika engkau menghilangkan transaksi ini dan menyerahkan anakmu kepada negara, hasilnya adalah makhluk yang rusak, yang jika mereka tidak kuat maka mereka siap menjadi pasar obat narkoba. Jika mereka liar dalam pencarian kepribadiannya maka mereka bisa terlibat dalam penyimpangan seksual. Jika mereka seluruhnya berada di bawah pengawasan mata putus asa seorang ayah yang terjinakkan mereka akan menjadi sebuah salinan lumpuh yang tidak memiliki kehidupan pribadi dan keasliandirinya, atau jika memperoleh barakah yang besar, mereka akan melarikan diri. Inilah keadaan, secara ruhaniahnya, rumah tangga borjuis.

Saya sedang berbicara tentang pendidikan bagi anak-anak dan mengatakan bahwa apa yang mereka sebut sebagai proses pedagogis tidak menghasilkan orangnya. Saya tidak mengatakan bahwa tidak perlu ada suatu proses pedagodis, tentu saja diperlukan, dan kita menginginkan proses-proses berkesadaran, sesuai ilmu dan pengembangan yang kita miliki, dan kita ingin untuk bisa membaurkannya, hanya saja yang kita inginkan adalah seorang makhluk manusia yang lengkap yang kemudian memutuskan untuk untuk mengambil dari ilmu-ilmu khusus itu menurut ketertarikannya dan keingintahuannya pada ilmu tersebut. Saya melihat sesuatu yang sungguh mengkuatirkan dalam penelaahan saya terhadap kanak-kanak di awal umur sekolah dasarnya, yaitu bahwa mereka yang tertarik pada komputer ditetapkan oleh sistem sekolah negara sebagai mereka yang memiliki akal yang luar biasa. Padahal mereka inilah yang pada dasarnya benar-benar berada dalam mara bahaya sebagai makhluk manusia karena mereka lebih suka memilih untuk berhubungan dengan komputer. Mereka tak mampu duduk bersama makhluk manusia lainnya karena biaya emosionalnya terlalu mahal bagi mereka, sehingga mereka lebih memilih untuk bersama dengan benda ini yang kepadanya bisa dijejalkan berbagai perintah dan segera memperoleh tanggapannya.

Saya baru saja menghabiskan dua hari di sebuah hotel di Zurich dan saya menyalakan televisi Prancis dan di situ ada sebuah program mengherankan tentang sekelompok pria dan wanita yang menjalani suatu pertukaran pesan-pesan komunikasi bukan pornografis namun sebentuk kesepian romantis dengan orang-orang lain yang tidak ingin atau tidak berniat mereka temui melalui komputer Unitel – sebuah sistem komputer nasional Prancis. Orang-orang itu sungguh-sungguh telah melakukan sebentuk percintaan romantis tanpa ada niatan bahwa ini akan menuju suatu pertemuan – karena ini dilaksanakan berdasarkan pada sebuah kesepakatan dasar di awalnya oleh kedua belah pihak bahwa mereka tidak akan pernah saling bertemu muka!

Maka dari beberapa keadaan awal pendidikan ini saya akan membahas tentang lingkungan di mana si anak berada, menuju sebuah model dasar yang disebut Strindberg [Johan August Strindberg, penulis drama dari Swedia] sebagai ‘mercusuar’, yaitu dimana seorang pria dan seorang wanita terperangkap dalam sebentuk sebuah ruang persegiempat putih. Seluruh krisis dari keduanya berkembang meluas ke seluruh dunia, karena di ruang itulah mereka memiliki kehidupan mereka. Pertama-tama, jika engkau melihat arena persegiempat itu dalam kerangka borjuis normal, itu berarti bahwa salah satu apakah si pria, atau si wanita atau keduanya pergi keluar untuk bekerja sebab mereka menjalani apa yang disebut sebagai ‘mencari pendapatan untuk hidup’. Tetapi sebenarnya kehidupannya adalah apa yang tersisa dari apa yang telah mereka kerjakan itu, yang biasanya berarti malam hari, akhir pekan, dan hari libur dimana mereka sudah kelelahan, sehingga bahkan perjumpaan sosial, erotis, kemanusiaan dalam tiap dimensinya tak hanya mengandung segala ketegangan jiwa yang terjadi padanya di pagi hari, bahkan terkandung intensitasnya yang tak lagi bisa diatur ulang.

Jadi perihal sangat penting yang berada di jantung jati diri ruhani seorang wanita, telah diingkari darinya. Sehingga dia sepatutnya menjadi cemburu, dan ini bukan sebuah kecaman bagi wanita, hanya mengatakan bahwa para wanita secara ruhani menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi, baik dengan menyadarinya atau tidak. Prosesnya adalah melalui apa yang namanya kantor, toko, atau apapun yang engkau sibuk dengannya itu menjadi seperti seorang selingkuhan. Jika ia pulang ke rumah maka sang istri merasa seperti sedang tidak bersamanya, bercintanya seakan bercinta kali kedua, tidak memiliki gairah seperti yang pertama dan ini mempengaruhi segalanya. Karena ini perasaan marah hadir namun ini bukanlah perasaan marah yang dibutuhkan, peperangan yang diberkahi antara pria dan wanita yang darinya muncul resolusi, kesatuan dan terpenuhinya kepuasan. Ini semua direnggut karena sang wanita telah berperan sebagai istri/ibu kepada sang pria yang selingkuhannya adalah pekerjaannya.

Satu hari seorang pria dari komunitas kita menemui saya dan berkata, “Saya benar-benar khawatir, istri saya menjadi beban bagiku.” Saya berkata, “Itu perkataan yang mengerikan.” Lalu ia berkata, “Bukan, bukan, dia hebat, hanya saja dia menjadi sebuah kecemasan bagiku karena saya harus terus memberikan uang kepadanya untuk membayar tagihan-tagihan.” Maka saya berkata, “Ini sangat luar biasa, karena bagi pria moderen, istrinya adalah sebuah kecemasan dan sebuah beban, dan pekerjaannya adalah kekasihnya!” Nafsu berahinya, gairahnya tertuju pada proyek pekerjaannya, yang merupakan jati diri dan kedudukannya di masyarakat. Nah dalam hal ini terdapat pula jenis lain dari perasaan marah, bukan seperti yang disebut oleh Lawrence [D. H. Lawrence, penulis Inggris] sebagai ‘agresi serigala’, dari suatu perang tanding erotis, melainkan perihal indah dalam ‘The Ring’ [lengkapnya The Ring of Nibelungen, sebuah drama musik empat babak karya Richard Wagner] dimana Siegfried [lakon utama pria dalam drama itu] baru bisa menaklukkan Brünnhilde [lakon wanita utama dalam drama itu] jika dia tidak lagi merasa takut, hanya saja satu-satunya ketakutan yang ada padanya adalah ketakutannya pada Brünnhilde. Hingga selanjutnya ia menyadari bahwa ketakutannya pada Brünnhilde itu terasa manis, ia harus takluk kepada Brünnhilde dan perihal yang dikiranya ini mengerikan itu ternyata terasa sangat manis! Sedang apa yang dikatakan Lawrence adalah bahwa perjumpaan antara pria dan wanita tidak bisa terjadi karena telah mengalami korsleting. Ini berarti suatu agresi lain terjadi, dan agresi itu tidak akan dengan mudahnya menimpa sang suami atau sang istri melainkan pada dia yang paling mudah diserang – sang anak. Sehingga apapun proses pedagogis yang berlangsung akan benar-benar membenamkan sang anak, anak yang terluka itu berasal dari dalam rumahnya sendiri.

Akan terlihat bahwa melalui kompensasi atas rasa bersalah itu, apa yang disodorkan kepada sang anak adalah pengganti-tiruan dari perjumpaan asli ini. Saya tak akan mengatakan ini adalah ‘cinta’ karena seperti yang dikatakan Lawrence dengan benar, “Jika engkau mau anakmu bisa selamat, tolong berhentilah mencintai mereka,” – karena untuk mencegah perjumpaan itu engkau lihat bahwa sang anak memiliki kamp konsentrasinya sendiri, apa yang disebut sebagai taman kanak-kanak, seakan-akan mereka adalah spesies lain jenis, seperti seekor burung dalam sangkar atau seekor anjing dalam keranjang kecil, dan di dalam taman kanak-kanak itu bisa engkau lihat benda-benda yang disebut sebagai ‘mainan’. Sebuah mainan di abad delapan belas adalah segala benda kecil yang ada di dalam rumah seperti gunting, segulung benang, setiap barang rumah tangga berukuran kecil, lalu tiba-tiba kita dapati sebuah dunia fantasi ciptaan, bukan oleh sekumpulan cendekiawan yang menginginkan perkembangan kanak-kanak, melainkan oleh sebuah industri yang menginginkan laba dimana pada rapat umum tahunannya yang dilaksanakan sekelompok orang dewasa, kebanyakan pria, mereka duduk bersama dan berkata, “Apa yang akan membuat anak itu melakukan hal ini daripada melakukan hal itu.” Ini menghasilkan sebuah arena gila yang tak nyata dimana mereka akan hidup, yang selanjutnya diperluas melalui televisi dengan berbagai desain bergerak mahkluk tak nyata dalam sebuah dunia fantasi yang lengkap di mana padanya tak pernah terjumpai suatu emosi manusiawi yang sejati, bahkan dalam kemarahan, karena bahkan kemarahan-kemarahan ini adalah kemarahan yang telah dikorsletkan seperti yang saya jelaskan, mereka bukan lagi kemarahan geram melainkan rangkaian ledakan-ledakan perusak syaraf domestik.

Maka sang anak, jika ia masih memiliki kemanusiaan, menarik diri dan pergi lalu berubah menjadi sejenis anak baru yang belum pernah ada di bumi sebelumnya: si remaja baru yang seperti orang dewasa tetapi bukan saja telah dibius bahkan juga telah dibakar [dikauterisasi]. Syaraf-syarafnya, kehidupan perasaannya telah dibakar. Jika engkau menggunakan benda yang merah membara dan digunakan untuk membakar luka maka lukanya akan menutup namun senantiasa tersisa parut luka yang tidak bisa hilang. Maka jadilah pria dan wanita yang terlihat cakap, indah, semua memiliki keindahan tersendiri sebagai hasil rumah tangga fantasi ini, namun semua telah terbakar, tanpa perasaan, dan acuh tak acuh serta tak terjangkau.

Di pertengahan abad dua puluh psikosis yang menguasai khalayak orang banyak adalah skizoprenia, yang nyaris merupakan suatu puisi yang mengagumkan karena penderitanya akan berbicara hal-hal yang mengagumkan, menggambar gambar-gambar surealis, dan sangat-sangat tidak acuh. Kini kegilaan yang menguasai kehidupan borjuis ini adalah anak autis, yang terputus tanpa adanya perasaan dalam hidupnya, dan terdapat unsur skizoprenia dalamnya dimana mereka tidak bisa membedakan kotoran tubuhnya dan apa yang bersih, antara makanan dan tahi, dimana ciri utamanya, bisa dikatakan begitu, adalah bahwa mereka bisa mengulangi kembali pesan yang mereka terima. Jika engkau berkata kepada seorang anak autis, “Apakah ada yang salah?” Mereka akan berkata, “Apakah ada yang salah, apakah ada yang salah, apakah ada yang salah, apakah ada yang salah?” hingga engkau merasa hampir gila, karena engkau tidak lagi mampu menanggungnya. Jika engkau membuat sebuah gerak isyarat, mereka akan mengulangi sikap itu kembali kepadamu seperti suatu olok-olok canggih yang tidak benar dari pesanmu.

Itu semua adalah hasil-hasil langsung dari sebuah jalan hidup yang memiliki akhirnya. Yang tersirat dari apa yang telah saya katakan adalah bahwa kalian tidak bisa melakukan perubahan yang dibutuhkan dalam masyarakat jika kalian pergi kepada sebuah kelompok kebatinan dan melakukan yoga atau melakukan terapi bio-energi terhadap dirimu sendiri karena semua itu tidak akan memberikan pengaruh. Jika kalian mengatakan, “Saya ingin anakku dibesarkan dengan sebaik-baiknya,” lalu kalian berkata, “Di mana ya sekolah yang bagus supaya saya bisa mendaftarkan anak saya ke sana?” Itu juga tidak akan berpengaruh apapun. Hanya jika engkau merubah secara menyeluruh prosesnya maka apa pun yang dilakukan tidak akan memberi pengaruh apa-apa.

Di jantung dari proses sosial itu terdapat sesuatu yang pada saat ini kita tak berdaya sama sekali, sesuatu itu adalah transaksi ribawi. Namun dengan sebuah keinsafan dalam kesadaran yang meningkat tentang apa yang diperbuat hal itu kepadamu dan kepada anak-anakmu maka perihalnya menjadi berbeda. Engkau akan berkata, “Baiklah, jika kalian menginginkan de-konstruksi, kami akan berikan kepadamu de-konstruksi! Saya tahu bahwa penggerak dari seluruh prosesnya adalah segala sesuatu yang merupakan hasil-hasil dari keberadaan riba atas hutang yang memperbudak saya.” Maka kemerdekaan pertama darinya adalah berupa sekedar keinsafan atasnya. Tentu saja kita tidak bisa berlaku ideologis, karena de-konstruksinya bukanlah dengan anti-ribaisme dan penghancuran bank-bank karena perilaku itu tidak akan sama sekali menyelesaikan masalahnya. Mereka telah membangun masyarakat dengan modul-modul anti-antitesis, dialektisnya sehingga menentangnya hanya akan memperkuatnya – metode kritisnya adalah bahwa kalian harus menemukan sebuah titik lemah dan itu malah memperkuatnya. Dengan dialektika seperti itu maka si teroris adalah penjunjung keberadaan negara. Negara membutuhkan si teroris karena dia adalah seseorang yang bersikap nihilis sempurna yang berkata, “Tidak!” Namun itu tidak memiliki pengaruh dan itu hanya meneguhkan “Ya” yang tak boleh dibiarkan ini. Jünger [Ernst Jünger, penulis Jerman] berbicara tentang demokrasi sebagai berikut: “Perkataan ‘tidak’ saya adalah lisensi/ijin bagi mereka bahwa mereka benar dalam ‘ya’ mereka. Saya adalah satu ‘tidak’ dan mereka adalah sembilan puluh sembilan ‘ya’ – maka saya-lah yang mengakui membuktikan bahwa semuanya OK, dan saya tidak bisa menjalankan ‘tidak’ saya.” Maka tidak melakukan ‘tidak’ itu telah meruntuhkan segalanya itu karena telah terjadi sebuah perubahan dalam kesadaran

Pada saat ini itu hanya mungkin terjadi bersama kehadiran sebuah kelompok elit mereka yang memiliki keberanian untuk memulai prosedur tata cara pendidikan ulang dirinya, pengaturan kembali cara berkehidupanmu dan karenanya munculnya kemungkinan terciptanya sebuah generasi yang menjadi sebuah jembatan menuju Overman – Manusia hebat, sebuah permisalan sempurna dari Nietzsche, yang dalam permisalan Islaminya adalah menjadikan sempurnanya kembali manusia. Sesungguhnya, semua wanita cerdas yang pernah saya ajak bicara, menginginkannya. Lalu ada sebagian pria yang sesuai akalnya setuju namun saya yakin bahwa mereka tidak akan melakukan perubahan apapun dalam lingkup keluarganya: “Ya, secara intelektual anda benar, namun saya tak akan merubah keadaan ini. Kalau anak laki-laki saya sampai di rumah, saya akan perintahkan padanya apa yang harus dilakukannya dan saya akan meutup pintu. Mereka harus terus pergi ke sekolahnya.” Orang-orang seperti itu tak akan merubah ikatan-ikatan sosialnya.

Sekelompok orang yang menginginkan perubahan-perubahan ini haruslah menjejaki sebuah pemahaman keinsafan – bukan kritis – tentang bagaimana seluruh transaksi harta kekayaan ini berlangsung, jadi bukan hanya sekedar kita tidak memakan riba, melainkan seluruh transaksi dan perdagangan haruslah kita didasarkan pada keyakinan. Kita harus bekerja sama satu sama lain atau bersama-sama dengan mereka yang kita yakini/percayai, dan ini berarti menghapus domestifikasi pria, bukan manusia, tetapi para pria karena merekalah yang paling sulit berubah dan faktor pencegah terbesar menuju evolusi ini. Sebab dari pesan-pesan yang mereka sampaikan itulah, maka para wanita borjuis seperti yang telah disebutkan tadi hanya akan memantulkan/memberikan pesan kembali seperti yang mereka inginkan.

Tragedinya adalah bahwa, di dalam dialektika sistem negara, gerakan wanita [yang mengusung persamaan gender] itu dirancang bagi wanita yang berkata, “Tidak, saya menginginkan bahwa pria itu menjadi sejenis pria yang lain, sehingga saya bisa menjadi diri saya sendiri, wanita baru itu.” Hanya saja ternyata mereka alih-alih merancang sebuah dialektika yang membuka kesempatan peristiwa kerjasama itu terjadi, malahan yang direkayasa adalah sebuah dialektika berlawanan yang menyerupai sejenis peperangan, yang secara logis hasil akhirnya adalah sebentuk keterbalikan. Cara ini hanya bisa memberikan hasil dalam sebentuk pembalikan jenis kelamin yaitu sebuah penolakan atas para pria yang dianggap tidak berdaya. Oleh karena itu para wanita paling berani, dengan energi kewanitaan dan kekuasaan keibuannya yang tangguh, seperti apa adanya itu, diberikan sebuah peran untuk menghentikan perihal penting yang mereka inginkan terjadi. Ini adalah dialektika yang serupa dengan dialektikanya negara struktural, yang menjamin bahwa apa yang diinginkan itu tidak akan pernah terjadi, yang menjamin kebalikannya-lah yang akan terjadi.

Namun demikian para wanita cerdas hari ini mampu mengenali hal ini dan mampu menegaskannya dan bekerjasama dengannya. Kesulitannya adalah menemukan pria-pria yang memiliki keberanian berkehidupan nyata untuk hidup dengan cara berbeda dari cara mereka hidup kini. Agaknya terdapat ketakutan luar biasa dan yang lebih luar biasanya karena ketakutannya adalah ketakutan tentang rejeki. Perhatikan, bukankah ketakutan tentang rejeki ini adalah sebentuk kecemasan hidup dari ketidakpastian yang teringat dari masa kanak-kanak yang tumbuh dalam situasi borjuis dimana sang ibu merasa cemas dan bahwa makanannya disampaikan namun tidak disantapkan? Sekali lagi, mari dilihat pada saat peristiwa pensusuan, saya teringat Hajja Khayria berkata kepada seorang ibu muda yang anaknya sedang disusui dan dia sendiri melamun memandang keluar jendela seakan ia sendiri berada di bulan, “Kalau engkau mensusui, tatap-lah anakmu!” Begitulah dari sebuah hadith Rasulullah sallallahu alayhi wasallam, yang bersabda, “Umm al-madrasa” – sang bunda itulah madrasanya, sekolahnya. Ia bersabda bahwa sang bunda yang memberikan susu pada anaknya dan bersama dengan susunya sang bunda memberikan hikmah/kebijaksanaannya. Adalah tatapannya kepada si bayi yang memberikannya kepadanya kemanusiaannya, dan jika ibunya tidak berbuat demikian, maka hal ini tidak akan menjadi sempurna.

Inilah apa pengajaran itu dan ini serupa dengan duduk di hadapan sang Shaykh, pria yang memainkan biola di depan kandungan sang istri, dan itulah hal yang memberikan pembedaan yang berlawanan terhadap berkumpulnya seperti dalam keadaan teler yang bisa kalian lihat di para remaja. Para remaja itu semua memiliki sebuah keadaan yang sama dalam keadaan telernya itu – kalian kira mereka sedang menghisap ganja/hasis padahal mereka tidak menghisapnya – namun jika mereka memperoleh ganjanya mereka menjadi sangat gembira, karena itu bukanlah sesuatu yang asing bagi mereka karena hal itu sekedar mengukuhkan bagaimana keadaan mereka selama ini, bagaimana pengalaman mereka atas kehidupan itu.

Semua ini mensiratkan kemampuan para pria untuk melakukan penghapusan domestikasi/penjinakan, untuk keluar dari rumahnya, agar mampu duduk bersama pria lainnya dan tidak berkelahi dengan mereka dan tidak menanggapi pria lain dalam suatu perilaku tingkat rendah anjing yakni saling mengendus dan menjalak; tidak untuk melakukan penilaian-penilaian berdasarkan perasaan sendiri/subjektif sebagai sebuah mekanisme pertahanan demi mencegah perubahan sosial, melainkan agar mampu meletakkan masalahnya di hadapan masing-masing dan bersetuju untuk melaksanakan hal-hal. Itulah persaudaraan itu, inilah yang dimaksud oleh beliau sallallahu alayhi wassalam ketika beliau bersabda, “Muslimin itu seperti dua tangan yang membersihkan.” Bagaimana mereka bisa menjadi seperti dua tangan yang saling membersihkan jika mereka tidak keluar bersama? Inilah yang harus dikatakan para Sufi. Jika saya berada di Tashkent di jaman Rumi, saya pasti akan berbicara sesuatu yang berbeda dari pembicaraan ini, karena pada saat itu mereka berada dalam tekanan yang berbeda, pemerintahan, peribahaya, godaan dan penistaan yang berbeda.

Kita hidup di jaman ini dan jika kita tak bisa menghadapi semua perkara tersebut maka tidak akan ada lagi insan yang akan bertanya apa itu tasawwuf dan tak ada lagi yang bisa mengucapkan shahadat. Kita tidak sedang berusaha membuat sebuah utopia atau menjadikan seluruh dunia seperti kita, kita tak akan pernah mencoba melakukan itu. Lihatlah keluar di sana! Pergilah seperti saya telah pergi ke Malaysia dan lihatlah masa depan, betapa mengerikan! Ada berjuta-juta dari mereka dan kalian tetap tidak mampu melakukannya, bahkan jika kalian memperkenalkan seluruh bentuk pengendalian kelahiran di dunia dan mampu menurunkan jumlah penduduknya, kalian tetap saja tidak akan mampu melakukannya! Yang harus kalian lakukan adalah melakukannya di suatu tempat dan itu berarti tempat dimana engkau berada, karena kedermawanan itu dimulai dari dalam rumahmu sendiri. Salah seorang sahabat Rasul sallallahu alayhi wassalam mendatangi Rasul sallallahu alayhi wassalam dan berkata, “Ya Rasul, saya memiliki kelebihan harta, kepada siapa harus kuberikan, siapa yang harus kuberi?” Beliau bersabda, “Berikan kepada keluargamu.” Sahabat itu menjawab, “Saya sudah memberikan sebagian kepada mereka.” Beliau bersabda lagi, “Selanjutnya berikan kepada tetangga sebelah rumahmu.” Sahabat itu kembali menjawab, “Saya juga sudah memberikan sesuatu kepada mereka.” Beliau berkata lagi, “Kalau begitu berikan kepada tetangga sebelah rumahnya.” Sahabat itu menjawab, “Saya sudah juga memberikan sesuatu kepada mereka.” Lalu Rasulallah sallallahu alayhi wassalam marah dan berpaling, karena itu berarti bahwa pria itu tidak memahami maksudnya. Jika kalian tidak mengerti perihal itu maka engkau seorang idiot. Perihal itu berlawanan dengan program kesejahteraan masyarakat dan pemberian uang pensiun, dan jika kalian mengambil uang/terima gaji dari negara maka kalian telah berakhir sebelum kalian memulainya, kalian seorang yang lumpuh dan anak-anak kalian akan celaka! Kalian tidak bisa melakukannya! Kalian harus mulai dengan yakin/bertawakal pada Allah.

Allah akan memberikan rejeki bagimu, Allah akan memberimu makan, engkau akan makan hingga engkau wafat dan kalian harus memahami ini. Penolakan padanya bukanlah karena kalian berkata, “Saya tidak percaya Tuhan, saya tak akan menjadi seorang Muslim,” penolakan itu karena kalian tidak yakin kepada ibumu dan kalian tidak menghormati ayahmu; engkau mengira ibumu tidak akan memberimu makan dan engkau mengira ayahmu tidak akan melindungimu karena salah satu dari dua alasan apakah dia telah pergi meninggalkan kalian atau engkau diberitahu bahwa ayahmu itu seorang bangsat.

Jika kalian tidak menciptakan hal ini maka kalian belum lagi menciptakan sebuah kondisi manusiawi. Kalian tidak bisa melakukan ini sendirian terkungkung di dalam keluarga karena terkungkung di dalam keluarga itu seperti neraka, karenanya kalian harus membuka pintu-pintu rumah tanggamu dan membebaskan istrimu dari menara suarnya. Jangan anggap rumahmu adalah gua tempat kembalimu setelah seharian berburu, berkembanglah kepada sebuah kesadaran yang lebih tinggi dimana terdapat sebuah kenyataan ruhaniah yang dibagi bersama antara si laki-laki dan si perempuan yang di dalamnya engkau harus rawat urus, dan tanggungjawab kepada anak-anakmu bukanlah pedagogis ataupun perintah-perintah ketat semata. Melainkan agar si anak mampu melewati setiap tahapan, dengan memberikan kepada mereka sedikit dari apa yang sudah engkau pelajari dan akan bermanfaat bagi mereka tanpa berlebih-lebihan dan obsesi. Demikianlah itu azas-azas dasar sebenarnya dari sebuah kelompok khalayak elit ruhaniah yang patut dan sesungguhnya sehingga jika kemudian mereka berkumpul untuk menyanyikan diwan dan melakukan hadra, terciptalah sebuah atmosfir yang benar-benar berbeda dari apa yang sudah kita rasakan, yang karena itu maka orang-orang dari ujung-ujung dunia akan berdatangan untuk mencarinya. Hal ini tidak akan bisa diwujudkan dengan sendirinya secara estetis, ini hanya bisa mewujud melalui keberanian kalian untuk mengubah cara hidup yang kalian tengah jalani dengan penuh kerusakan ini.

Daftar kata-kata:

• dhikr – mengingat, menyebut atau menyeru Allah.

• diwan – sebuah kumpulan syair (pengajaran) Sufi.

• Hadith – riwayat sabda khusus dari Rasulullah.

• hadra – tarian nafas, menyebut asma Ilahi.

• Iman – keyakinan.

• murid – pelajar kepada seorang Shaykh pemberi tarbiyya. ‘Seseorang yang menginginkan’ apa yang diinginkan Shaykhnya agar mengenali dirinya sendiri. Makna secara harfiah, ‘dia yang berkeinginan’, ia menginginkan apa yang diinginkan Shaykhnya.

• radiyallahu ‘anhu – semoga Allah ridha padanya.

• Rasulullah – Rasul Allah.

• Salihun – mereka yang telah beramal salih, yang berada di tempat yang benar di waktu yang benar.

• sallallahu ‘alayhi wa sallam – semoga salawat dan salam Allah baginya, diucapkan (dituliskan) jika menyebut Rasul Allah.

• shahada – penyaksian, pilar pertama Islam – “Ash-hadu an la ilaha illallah, wa ash hadu anna Muhammadar-Rasulullah,” sallallahu ‘alayhi wa sallam.

• Shari‘at – secara harfiah, sebuah jalan; suatu jalan/aturan hukum dan kemasyarakatan dari suatu umat didasarkan pada wahyu Rasul mereka.

• Shaykh – pimpinan, pembimbing ruhani.

• Sufi – seseorang yang menjalankan Sufisme, ilmu berjalan menuju Allah.

• Sufisme – ilmu berjalan menuju Allah.

• Tariqat – jalan setapak batin, sebuah tata cara Sufisme tertentu.

• tasawwuf – Sufisme, ilmu berjalan menuju Allah.

• Wird – cara berdhikr yang dibuat dengan memuat pola-pola tertentu mengandung ilmu dan pengenalan diri.

Scroll to Top